Mengubah “Tak Bisa” Menjadi “Bisa”: Bedah Buku Inspiratif di SMAHA

Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan literasi sekaligus kesehatan mental siswa, SMA Islam Hidayatullah (SMAHA) menyelenggarakan kegiatan bedah buku pada Jum’at, 10 April 2026 yang bertempat di Aula SMAHA. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas X dan XI yang antusias dalam mengikutinya. Tak tanggung-tanggung, kegiatan ini menghadirkan langsung penulis buku, Dea Sholihatun Ni’mah yang dikenal dengan nama pena “Kata Deash” sebagai narasumber utama. 

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Sri Widayati, S.Pd. dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya budaya literasi di kalangan pelajar sebagai bekal menghadapi masa depan. 

Kegiatan ini merupakan salah satu tindak lanjut dari gerakan literasi sekolah, dengan harapan semoga salah satu di antara kalian bisa menjadi penulis hebat di masa depan,” ujarnya.

Memasuki sesi inti, Kak Dea membagikan kisah perjalanan hidupnya yang menjadi latar belakang penulisan buku tersebut. Ia mengungkapkan bahwa buku “Dari Aku Tak Bisa Menjadi Aku Bisa” lahir dari pengalaman pribadi saat menghadapi fase kegagalan, keterpurukan, hingga keraguan terhadap diri sendiri. Namun setelah melalui proses panjang, ia bangkit dan mengubah cara pandangnya terhadap kegagalan. 

Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses pembelajaran.”

Buku ini ditulis sebagai refleksi agar pembaca dapat memahami bahwa pola pikir memiliki peran besar dalam menentukan arah hidup seseorang. Dengan mengubah mindset menjadi lebih positif, seseorang dapat melihat peluang di balik setiap kesulitan.

Rasyadan Syaputra kelas XI-1, salah satu peserta berpendapat bahwa ketakutan sering kali berasal dari dalam diri, terutama ketika seseorang merasa tertinggal dari orang lain dan mulai membandingkan dirinya.

Karena ketakutan itu muncul dari diri kita sendiri, merasa seolah kita kalah dari orang lain, dan sering membandingkan diri dengan yang lain,” jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, Kak Dea memberikan penekanan bahwa kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain adalah salah satu akar utama munculnya rasa tidak percaya diri.

Kita itu sering membandingkan proses kita dengan orang lain. Padahal, setiap orang punya waktu dan jalannya masing-masing. Jika kita terus memaksakan mengikuti keinginan orang lain, kita tidak akan sampai pada tujuan sendiri,” paparnya.

Di akhir acara, Kak Dea berharap para siswa tidak hanya mendapatkan wawasan baru, tetapi juga dorongan untuk lebih mengenali potensi diri, mengelola pikiran, serta berani menghadapi tantangan hidup. 

Perubahan besar selalu diawali dari langkah kecil, dan keberanian untuk memulai menjadi kunci utama dalam mengubah ‘tidak bisa’ menjadi ‘aku bisa’,” tutupnya.