Upacara Berbahasa Inggris di SMAHA: Dari Lapangan Sekolah, Semangat Global Itu Dimulai

Pagi itu terasa berbeda.

Langit masih muda ketika satu per satu siswa mulai memadati lapangan SMA Islam Hidayatullah (SMAHA). Jam menunjukkan pukul 07.00 WIB, Senin, 13 April 2026. Tidak hanya siswa, para guru dan tenaga kependidikan pun telah bersiap rapi. Ada energi yang terasa lebih hidup dari biasanya, sebuah tanda bahwa hari ini bukan upacara biasa.

Di balik kerapian barisan dan ketegasan langkah para petugas, tersimpan proses panjang yang telah dimulai sejak pekan lalu. Latihan demi latihan mereka jalani bersama para guru pelatih, mempersiapkan momen yang akhirnya tiba hari ini: saatnya tampil, saatnya “in action”.

Dan benar saja, suasana langsung berubah sejak pembawa acara memulai rangkaian upacara dengan menggunakan Bahasa Inggris.

Kalimat demi kalimat yang dilantunkan terasa berbeda, lebih hidup, lebih menantang, sekaligus membangkitkan antusiasme seluruh peserta.

Hingga akhirnya, satu komando tegas terdengar:

“Salute!”

Sontak, seluruh peserta upacara serentak memberikan hormat dengan penuh kekompakan. Momen itu menjadi penanda bahwa upacara pagi ini bukanlah upacara biasa, melainkan sebuah pengalaman baru yang membanggakan.

Ini bukan sekadar variasi. Ini adalah langkah awal.

Mulai hari ini bulan April ini, SMAHA secara resmi menginisiasi penggunaan Bahasa Inggris sebagai salah satu alat komunikasi aktif di lingkungan sekolah, baik oleh guru, staf, maupun siswa. Sebuah upaya nyata untuk membangun budaya global sejak dari lingkungan terdekat.

Momentum semakin terasa saat amanat pembina upacara dimulai.

Kali ini, yang bertindak sebagai inspektur upacara adalah Ibu Nunung Kusumawati, S.S., M.S., guru Bahasa Inggris yang akrab disapa Ma’am Nunung. Dengan penuh semangat, beliau mengajak seluruh warga sekolah untuk berani memulai.

“Let us start from today. Together, we build an English environment in our school. Speak English as much as you can. Don’t worry too much about grammar, because the most important thing is others understand your message.”

Pesan itu sederhana, namun mengena.

Bukan tentang kesempurnaan, tetapi keberanian untuk mencoba.

Tak berhenti di situ, Ma’am Nunung juga memperkenalkan slogan baru SMAHA yang langsung menggema di lapangan:

“Respect, Speak Up, Don’t Give Up!”

Suara lantang para siswa dan guru meneriakkan slogan tersebut menciptakan atmosfer yang penuh energi. English vibes benar-benar terasa—bukan sekadar konsep, tetapi sudah menjadi pengalaman nyata.

Momen paling berkesan pun terjadi ketika Ma’am Nunung menantang siswa untuk maju ke depan dan berbicara dalam Bahasa Inggris. Beberapa siswa dengan penuh percaya diri melangkah maju. Dengan suara yang mungkin masih bergetar, namun penuh keberanian, mereka menyampaikan mimpi-mimpi mereka.

Tepuk tangan pun bergema.

Senyum bangga terpancar dan kebahagiaan semakin lengkap saat mereka menerima hadiah langsung dari Ma’am Nunung.

Upacara pagi itu bukan hanya tentang baris-berbaris. Ia menjelma menjadi panggung keberanian, ruang belajar, sekaligus perayaan semangat baru.

Kepala SMAHA, Ibu Etik Ningsih, S.Pd., turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya upacara yang berbeda ini.

“Ini adalah langkah nyata SMAHA dalam menyiapkan siswa menghadapi tantangan global. Kami ingin membangun kebiasaan, bukan sekadar kemampuan. Ketika Bahasa Inggris menjadi budaya, maka kepercayaan diri siswa akan tumbuh secara alami.”

Sebagai penutup, upacara dilengkapi dengan penyerahan apresiasi kepada siswa-siswa berprestasi yang telah mengharumkan nama sekolah di berbagai ajang lomba mulai dari tingkat daerah, nasional, hingga internasional. Tak ketinggalan, penghargaan juga diberikan kepada kelas paling disiplin sebagai bentuk motivasi kolektif.

Pagi itu akhirnya ditutup dengan rasa bangga.

Bukan hanya karena upacara telah terlaksana dengan baik, tetapi karena sebuah langkah besar telah dimulai. Dari sebuah lapangan sekolah di pagi hari, SMAHA menegaskan komitmennya: membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga siap bersaing di dunia global.

Dan semua itu… dimulai dari kata-kata sederhana:

“Respect, speak up, don’t give up!”