Workshop SRA: Ruang Kolaborasi Guru Membangun Lingkungan Belajar yang Aman, Nyaman, dan Bermakna

SMA Islam Hidayatullah (SMAHA) Semarang menggelar Workshop Sekolah Ramah Anak (SRA) selama tiga hari, mulai 2–4 Juni 2026. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh guru ini diinisiasi oleh Tim Kesiswaan sebagai langkah strategis untuk memperkuat budaya sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan berorientasi pada pembentukan karakter murid.

Workshop diawali dengan sesi brainstorming (curah gagasan) yang menjadi ruang refleksi bersama mengenai tantangan dan kebutuhan peserta didik di era saat ini. Selanjutnya, seluruh peserta dibagi ke dalam lima kelompok kerja untuk merumuskan pola, strategi, serta rancangan program yang akan diterapkan di lingkungan sekolah.

Setiap kelompok secara aktif mendiskusikan berbagai ide dan inovasi yang bertujuan membentuk karakter akhlakul karimah, memperkuat budaya positif, serta menghadirkan pengalaman belajar yang lebih humanis dan berpihak kepada murid. Program-program yang dirancang berfokus pada kurikulum akhlak, yaitu menyusun grand design program Ramah dan 5S, Pakaian dan Penampilan, Adab di Tempat Ibadah, Empati dan Kepedualian Sosial, serta Pergaulan Islami dan Media Sosial.

Menurut Kepala SMA Islam Hidayatullah Semarang, Etik Ningsih, S.Pd. kegiatan ini menjadi kebutuhan penting bagi sekolah dalam menjawab dinamika perkembangan generasi muda. “Workshop ini sangat dibutuhkan untuk menyamakan persepsi seluruh pendidik dalam membangun lingkungan belajar yang ramah anak. Sekolah bukan hanya tempat mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang tumbuh yang harus mampu menghadirkan rasa aman, dihargai, dan didampingi bagi setiap peserta didik. Melalui kegiatan ini, kami berharap lahir program-program yang berdampak nyata bagi pembentukan karakter murid,” tuturnya.

Hal senada disampaikan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Sri Widayati, S.Pd. Menurutnya, sekolah ramah anak tidak cukup diwujudkan melalui slogan, melainkan melalui budaya dan program yang dirancang secara sistematis serta dilaksanakan secara konsisten. “Sekolah ramah anak harus hadir dalam setiap interaksi, kebijakan, dan kegiatan sekolah. Karena itu, seluruh guru perlu terlibat dalam proses perancangannya agar program yang dihasilkan benar-benar relevan, terukur, dan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan,” tegasnya.

Pada hari kedua dan ketiga, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya di hadapan seluruh peserta workshop. Berbagai masukan, kritik konstruktif, dan umpan balik diberikan untuk menyempurnakan setiap rancangan program sehingga lebih aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan murid.

Kegiatan berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme. Seluruh peserta mencurahkan gagasan terbaiknya demi menghadirkan lingkungan pendidikan yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga kuat dalam pembinaan karakter.

Lebih dari sekadar menyusun program kerja, workshop ini menjadi ikhtiar bersama untuk meneguhkan hakikat pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. SMAHA berharap berbagai program yang dihasilkan dapat menjadi fondasi lahirnya generasi yang berakhlak mulia, berkarakter kuat, serta mampu tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan agama.