Pagi yang Penuh Warna di Lorong SMAHA
Lorong sekolah hari itu terasa berbeda. Suara langkah kaki bersahutan, tawa berseliweran, dan warna-warni pakaian menambah semarak pagi. Batik, cokelat, hingga busana khas masing-masing kelas seolah menjadikan SMA Islam Hidayatullah (SMAHA), SMA Islam terbaik di Semarang seperti kanvas besar yang dipenuhi semangat.

Namun keriuhan itu tiba-tiba pecah oleh suara lantang yang memanggil siswa untuk segera masuk ke aula. Satu per satu mereka berbaris rapi, duduk di tempat masing-masing. Tatapan mereka penuh rasa ingin tahu. Hari ini, Rabu (22/10/2025) bukan hari biasa, hari ini mereka akan menentukan masa depan OSIS mereka.
Sambutan Hangat dan Pesan Kepemimpinan
Acara dimulai dengan sambutan hangat dari Kepala Sekolah, Ibu Etik Ningsih, S.Pd. Dengan nada lembut namun tegas, beliau mengingatkan pentingnya sportivitas dan keadilan dalam setiap langkah kompetisi. Setelah itu, giliran Solahuddin Al Ayyubi, Ketua OSIS periode sebelumnya, naik ke panggung. Ia menyampaikan pesan singkat tentang arti kepemimpinan dan harapan agar “pemilos” kali ini menjadi wadah belajar demokrasi yang sesungguhnya.

Tibalah momen yang paling ditunggu, debat antar paslon. Dari pintu aula, paslon nomor urut 1, Devdan Javas dan Davina Aira, melangkah dengan penuh percaya diri. Sorak sorai pendukungnya menggema, menciptakan gelombang semangat di seluruh ruangan. Tak lama kemudian, paslon nomor urut 2, Saidah Kaila dan Ihsan Kukuh, muncul dengan senyum tenang tapi meyakinkan. Suasana makin riuh ketika paslon nomor urut 3, Rasyadan Syaputra dan Nisrina Salsabila, ikut memasuki aula, disambut oleh pendukungnya yang tak kalah bersemangat.
Ketiganya berdiri di atas panggung. Sorot lampu menyorot wajah-wajah muda penuh mimpi. Debat dimulai. Visi dan misi meluncur satu per satu, pertanyaan saling dilempar, dan argumentasi bergulir dengan seru. Di antara tepuk tangan dan teriakan dukungan, tampak wajah-wajah siswa yang serius menilai. Mereka tahu, pilihan mereka akan menentukan arah OSIS ke depan. Waktu berlalu cepat. Saat MC menutup sesi debat, tepuk tangan panjang menggema bukan sekadar untuk siapa yang menang atau kalah, tapi untuk keberanian mereka yang sudah berdiri di depan.
Kreativitas dan Kejutan di Tengah Pemilos
Ketegangan pun mencair ketika acara berlanjut dengan penampilan seni. Teatrikal puisi, drama musikal, dan humor segar dari para siswa membuat suasana kembali hidup. Aula yang sempat sunyi kini kembali bergetar oleh tawa dan sorakan. Lalu, kejutan datang dari siswa kelas XI. Dengan konsep yang sudah disiapkan diam-diam, mereka menampilkan drama orasi kampanye yang kreatif untuk masing-masing paslon. Dari janji-janji program kerja hingga aksi teatrikal penuh makna, semuanya disajikan dengan semangat yang membara. Siswa kelas X, XI, dan XII yang menonton pun ikut tertawa, bersorak, dan berdecak kagum.

Namun, seperti semua cerita, setiap kemeriahan punya akhirnya. Kini saatnya memilih. Satu per satu siswa berbaris panjang, menuju meja pemungutan suara. Di ujung proses itu, jari kelingking mereka kini dihiasi warna ungu, tanda suara mereka telah resmi terpatri. Ada yang tertawa sambil memamerkannya, ada yang tersenyum diam-diam penuh harap.
Lalu tibalah momen terakhir: penghitungan suara. Kertas demi kertas dibuka, disaksikan oleh para saksi dengan degup jantung yang tak beraturan. Setiap garis hitam di kertas menjadi nafas baru bagi para pendukung. Dan akhirnya, nama Saidah Kaila dan Ihsan Kukuh, pasangan calon nomor urut 2, diumumkan sebagai pemenang. Sorak-sorai pun membuncah. Tapi tak ada air mata kecewa. Justru pelukan hangat antar paslon menutup hari itu dengan haru dan kebanggaan. Semua sadar, kemenangan ini bukan milik satu pihak, ini kemenangan seluruh warga SMAHA. Dengan suara bergetar namun penuh keyakinan, Saidah Kaila berkata, “Kemenangan ini bukan tentang saya dan partner saya. Ini tentang kita semua, keluarga besar OSIS SMAHA.”
Saat itu, kelingking ungu mereka menjadi lebih dari sekadar tanda tinta. Ia menjadi simbol suara muda yang belajar tentang arti demokrasi, kebersamaan, dan harapan (Raihana – XI 5; Editor: Ma’am Nunung).

