SMA Islam Hidayatullah (SMAHA) Semarang menggelar kajian akbar pada hari Selasa, 19 Mei 2026. Kegiatan ini merupakan event besar ROHIS SMAHA di setiap tahunnya. Pada kajian ini, ROHIS SMAHA mengundang Dr. KH. Muhammad Faiz Syukron Ma’mun, Lc., M.A., atau biasa dikenal “Gus Faiz” sebagai pembicara dengan mengambil tema “Menjaga Cahaya Taqwa di Tengah Arus Dunia Maya”. Selain sebagai pendakwah, beliau juga menjabat sebagai ketua umum MUI Prov. DKI Jakarta.

Ratusan jamaa’ah dari berbagai kalangan turut hadir dalam majelis ini yang bertempat di gedung Multi Function Building (MFB) Hidayatullah. Kajian ini diikuti oleh pengurus yayasan Abul Yatama, Majelis Ta’lim Hidayatullah (MTH), siswa/siswi SMAHA, guru dan karyawan, serta warga sekitar sekolah.
Acara diawali dengan iringan sholawat dari tim hadroh “El Hida” (tim rebana SMAHA). Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an oleh Vincent (X-2) dan Annisa (XI-4) serta dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Brilly Ashoda Anton Junior selaku ketua ROHIS SMAHA, dalam sambutannya menyampaikan harapan agar kegiatan yang berlangsung ini dapat membawa keberkahan bagi seluruh jamaah yang hadir. Ia juga berharap kegiatan ini menjadi salah satu amal kebaikan yang kelak dapat menjadi pemberat timbangan amal di akhirat. “Semoga Allah memberkahi acara ini, serta menjadi pemberat amal baik kita di akhirat nanti”, ujarnya.
Dalam kajian tersebut, Gus Faiz menceritakan kisah seorang murid Imam Asy Syadzili yang diperintahkan membawa segelas air penuh tanpa menumpahkannya sedikit pun. Karena terlalu fokus menjaga air tersebut, sang murid tidak memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Kisah tersebut kemudian dianalogikan dengan tema kajian yakni “Menjaga Cahaya Takwa di Tengah Arus Dunia Maya”, bahwa hati manusia harus dijaga agar tetap fokus kepada Allah dan tidak larut dalam hiruk-pikuk media sosial maupun godaan dunia digital. “Jadi kalau kita ngelihat dunia maya terus, takwa kita akan hilang”, pesan Gus Faiz kepada para jamaah.

Beliau juga mengingatkan bahwa dunia maya sejatinya memiliki banyak manfaat apabila digunakan dengan bijak. Gus Faiz juga menegaskan bahwa penggunaan yang berlebihan dapat membuat seseorang lalai dan jauh dari nilai-nilai takwa. “Dunia maya ini tidak salah, kalau kita lihat manfaatnya itu besar banget. Tapi jangan lupa, kalau dunia maya itu juga berbahaya kalau sudah masuk ke dalam diri kita”, tambahnya.
Sebagai penutup kajian, Gus Faiz mengajak jamaah untuk lebih bijak dalam memanfaatkan dunia maya, yakni menjadikannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan justru melalaikan diri dari kehidupan akhirat. Beliau menegaskan bahwa keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata perlu dijaga agar cahaya takwa tetap tumbuh di tengah perkembangan zaman. “Bagi kita semua yang sudah kecanduan media sosial, yang selalu mengukur kebahagiaan dengar standar media sosial. Ayo kita kembalikan porsi waktunya antara dunia maya dengan dunia nyata, dengan mengingat bahwa ‘walal akhirotu khoirun’ (Dan sungguh, akhirat itu lebih baik)”, tutupnya.
