Remaja Cerdas : Menciptakan Pertemanan Sehat tanpa Toxic

Pepatah Arab “مَنْ جَالَسَ جَانَسَ” yang berarti “barangsiapa duduk (bersahabat) dengan seseorang, maka ia akan menjadi sejenis (terpengaruh) dengannya” sangat relevan dengan kehidupan pertemanan remaja saat ini.

Di masa remaja, seseorang sedang berada pada fase pencarian jati diri. Pada fase ini, lingkungan pertemanan memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap cara berpikir, bersikap, bahkan mengambil keputusan. Remaja cenderung meniru kebiasaan, gaya bicara, hingga pola hidup dari teman yang sering bersama mereka. Untuk itu, SMAHA (SMA Islam Hidayatullah Semarang) menyelenggarakan seminar bertema perkembangan psikologi remaja yang bertema “Pertemanan Sehat tanpa Toxic”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 13 April 2026. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas X, dengan pembagian tempat yaitu ruang meeting untuk siswi putri dan aula untuk siswa putra.

Seminar ini menghadirkan narasumber psikolog sekolah, yaitu Ibu Nurina, S.Psi., M,Psi., Psikolog., CHA., CGA., dan  Ibu Niniek Kusuma W., S.Psi., M.Psi., Psikolog. Keduanya menyampaikan materi yang berkaitan dengan pentingnya memahami kematangan mental dalam pertemanan, termasuk fenomena seperti tidak mau berteman dan sikap overprotective dalam hubungan sosial remaja.

Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa remaja yang matang adalah remaja yang mampu melakukan introspeksi diri. Pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap kepribadian seseorang, sebagaimana hadis yang menyebutkan bahwa seseorang akan mengikuti agama atau kebiasaan temannya, sehingga penting untuk memilih lingkungan pertemanan yang baik.

Salah satu poin penting yang disampaikan adalah cara menghindari pertemanan toxic, yaitu dengan tidak menjadi pribadi yang toxic. Hal ini karena setiap individu memiliki energi yang cenderung menarik orang-orang dengan frekuensi yang sama, sehingga penting untuk membangun sikap positif dalam diri sendiri.

Ibu Ririn juga menegaskan pentingnya cara berpikir dalam menghadapi masalah. “Cara seseorang memandang masalah itu sangat penting. Seorang cerdas akan melihat permasalahan dari dua sudut pandang,” ujarnya.

Kegiatan seminar berlangsung sangat interaktif. Para siswa tampak antusias mengikuti jalannya acara, aktif bertanya, serta terlibat dalam diskusi dan simulasi yang diberikan oleh narasumber. Suasana menjadi hidup dengan adanya berbagai tanggapan dan pengalaman yang dibagikan oleh siswa terkait pertemanan di kehidupan sehari-hari.

Salah satu peserta, Fathian Jerolin, mengungkapkan kesannya terhadap kegiatan ini. “Kegiatan ini sangat bermanfaat karena saya mendapatkan cara memilih teman yang positif dan memahami bagaimana bersikap agar tidak terjebak dalam pertemanan yang merugikan,” ungkapnya.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan siswa dapat lebih bijak dalam menjalin pertemanan serta mampu mengembangkan kematangan emosional dan mental dalam kehidupan sehari-hari.