Upaya Nyata Melestarikan Dolanan di Tengah Arus Digitalisasi
Permainan tradisional atau dolanan merupakan bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia yang sarat nilai kearifan lokal. Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, minat generasi muda terhadap permainan tradisional kian menurun. Menjawab tantangan tersebut, SMA Islam Hidayatullah (SMAHA) Semarang kembali menggelar SMAHA Traditional Festival (STF) 2026 dengan tema “Gumregah Kabudayan, Ngiket Paseduluran.”

Kolaborasi Pembelajaran dan Festival Budaya
STF 2026 menjadi puncak dari projek kolaborasi pembelajaran siswa kelas X yang berfokus pada eksplorasi permainan tradisional. Melalui proses ini, siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mempraktikkan langsung cara memainkan dolanan serta memahami nilai filosofis di dalamnya.
STF yang digawangi oleh OSIS SMAHA digelar pada Kamis, 30 April 2026 ini mengundang berbagai pihak, mulai dari Ibu Lurah Padangsari, pengawas sekolah, Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Provinsi Jawa Tengah, komite sekolah, hingga siswa dari jenjang TK, SD, SMP, dan SMA di wilayah Banyumanik dan sekitarnya.
Dolanan, Kuliner Tradisional, dan Transaksi Unik Kreweng
Dalam festival ini, siswa menghadirkan beragam permainan tradisional seperti egrang, bakiak panjang, hingga jinoboy. Para pengunjung tidak hanya menyaksikan, tetapi juga diajak langsung mencoba permainan tersebut.
Menariknya, siswa kelas XI turut memeriahkan acara dengan menghadirkan kuliner khas Jawa Tengah seperti gendar pecel, es cendol, es gempol, dan aneka bubur tradisional. Seluruh transaksi menggunakan kreweng, alat tukar berbahan tanah liat yang menghadirkan nuansa tradisional yang autentik.

Suara Generasi Muda: Dolanan Itu Seru dan Bermakna
Arya Sakka (X 3) siswa yang terpilih sebagai Duta Dolanan 2026, menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda. “Dolanan itu bukan sekadar permainan, tapi juga mengajarkan kebersamaan, strategi, dan kegembiraan yang tidak tergantikan. Lewat STF ini, kami ingin menunjukkan bahwa permainan tradisional tetap seru dan relevan di era sekarang,” ujarnya.
Rangkaian Acara Meriah dan Kolaboratif
Kemeriahan STF 2026 diawali dengan penampilan tari dari Gana Akusara yang memukau para pengunjung. Tidak hanya itu, partisipasi orang tua juga dihadirkan melalui lomba Traditional Parents Festival (TPF) yang berlangsung penuh keakraban.

Sementara itu, siswa-siswi SMP turut ambil bagian dalam SMAHA Dolanan Competition, menjadikan festival ini sebagai ruang kolaborasi lintas generasi dalam melestarikan budaya.
Dukungan dan Harapan untuk Pelestarian Budaya
Ketua OSIS SMAHA dan selaku ketua panitia, Saidah Kaila (XI-5), mengungkapkan harapannya agar kegiatan ini terus berlanjut. “Kami berharap STF menjadi langkah nyata generasi muda untuk menjaga budaya agar tidak hilang ditelan zaman,” tuturnya. Perwakilan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Provinsi Jawa Tengah, Ibu Larasati Huri, M.Pd., menambahkan “Tantangan bagi generasi Z saat ini adalah bagaimana tetap melangkah maju mengikuti perkembangan zaman, tanpa melupakan budaya yang dimiliki,” tuturnya.

Apresiasi juga disampaikan oleh Sekretaris Yayasan Abul Yatama Semarang, Bapak M. Faiz, S.Pt., M.M. “Saya yakin kegiatan ini bukan sekadar seremonial. Namun juga mengajak kita untuk selalu mengingat dan menjunjung tinggi serta melestarikan kebudayaan kita,” ujarnya.
Komitmen Sekolah dalam Menjaga Warisan Budaya
Kepala SMA Islam Hidayatullah Semarang, Ibu Etik, S.Pd., menegaskan bahwa STF merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam membentuk karakter siswa yang berbudaya dan berdaya saing global. “Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan rasa bangga terhadap budaya bangsa sekaligus membangun karakter siswa yang kolaboratif, kreatif, dan berakar pada nilai-nilai luhur,” ungkap beliau.

Penutup: Merajut Masa Depan dengan Akar Budaya
SMAHA Traditional Festival 2026 bukan sekadar perayaan, melainkan gerakan nyata untuk menghidupkan kembali denyut kebudayaan di tengah modernisasi. Dari dolanan hingga kuliner tradisional, setiap elemen festival menjadi pengingat bahwa identitas bangsa terletak pada warisan budayanya.

Dengan semangat “Gumegrah Kebudayaan, Ngiket Paseduluran,” SMAHA terus menyalakan harapan, bahwa generasi muda Indonesia akan tetap melangkah maju tanpa pernah melupakan akar budayanya.

