Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 59:
“Yā ayyuhan-nabiyyu qul li-azwājika wa banātika wa nisā’il-mu’minīna yudnīna ‘alaihinna min jalābībihinna, żālika adnà ay yu‘rafna falā yu’dzain, wa kānallāhu ghafūrar rahīmā.”
Artinya:
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)
Ayat tersebut mengandung pesan tentang pentingnya menjaga diri, identitas, serta kehormatan sebagai bentuk kedewasaan dan tanggung jawab. Nilai inilah yang relevan dalam pembahasan perkembangan psikologi remaja, di mana masa ini merupakan fase pencarian jati diri dan pembentukan karakter.

Kamis, 12 Februari 2026, SMAHA menyelenggarakan seminar bertema “Perkembangan Psikologi Remaja” yang dilaksanakan di ruang meeting SMAHA. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa-siswi kelas X dan berlangsung dengan penuh antusias.
Seminar ini menghadirkan psikolog sekolah, Ibu Nurina, S.Psi., M.Psi., Psikolog., CHA., CGA., yang akrab disapa Bu Ririn, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase transisi dari anak-anak menuju dewasa yang ditandai dengan berbagai perubahan, baik secara fisik, emosional, maupun sosial.
Untuk meningkatkan partisipasi aktif, siswa-siswi diminta menuliskan pertanyaan yang kemudian dibahas dan dijawab langsung oleh narasumber. Salah satu pertanyaan yang menarik perhatian adalah, “Mengapa remaja cenderung lebih rentan terhadap tekanan sosial?”
Menanggapi pertanyaan tersebut, Bu Ririn menjelaskan bahwa remaja berada pada fase peralihan antara anak-anak dan dewasa. Pada masa ini, kondisi hormon belum stabil sehingga memengaruhi emosi dan cara berpikir. Hal tersebut membuat remaja lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan dan tekanan sosial, terutama dari teman sebaya.
Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya memiliki kontrol diri, memilih pergaulan yang sehat, serta membangun komunikasi yang baik dengan orang tua dan guru sebagai bentuk upaya menjaga kesehatan mental.
Seminar berlangsung secara interaktif dan komunikatif. Para siswa tampak aktif serta berani menyampaikan pertanyaan seputar pertemanan, kepercayaan diri, dan cara mengelola emosi.
Di akhir kegiatan, Bu Ririn menyampaikan pesan yang penuh makna kepada seluruh peserta, “Jadilah remaja yang sehat dan bertanggung jawab.”
Melalui seminar ini, diharapkan siswa-siswi kelas X SMAHA dapat memahami proses perkembangan diri mereka dengan lebih baik, mampu menghadapi tantangan remaja secara bijak, serta tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental, berkarakter, dan berakhlak mulia.

