Dalam rangka meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan guru terhadap isu perundungan, tim BK dan Kesiswaan SMAHA mengadakan sesi pendampingan bertema “Pencegahan dan Penanganan Bullying di Sekolah”. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber sekolah yaitu Ibu Ninik Kusumawati, S.Psi. pada sesi pertama serta Ibu Nurina, S.Psi., M.Psi., CHA., CGA. pada sesi kedua.
Sesi pertama dibuka dengan kegiatan refleksi, di mana para guru diminta mengisi dan mengidentifikasi berbagai kasus bullying yang pernah terjadi di lingkungan sekolah. Melalui kegiatan ini, guru diharapkan mampu melihat bahwa bullying sering terjadi tanpa disadari, serta pelakunya lebih dari satu orang, tetapi bisa berupa kelompok yang saling menguatkan perilaku negatif.
Ibu Ninik menjelaskan bahwa pelaku bullying biasanya memiliki fase otoritas, yaitu kecenderungan merasa lebih unggul atau lebih mampu daripada korban. Dalam pemaparannya, beliau menguraikan beberapa poin penting, antara lain:
Poin pertama, Ibu Ninik menjelaskan tentang jenis bullying yang meliputi bullying fisik, verbal sosial, dan siber. Lebih lanjut, di poin kedua penjelasan tentang karakteristik pelaku bullying yang mana mereka memiliki kebutuhan untuk merasa dominan, kurang empati, serta dipengaruhi lingkungan sosial yang tidak sehat.
“Bullying tidak hanya berdampak psikologis untuk korban, tetapi juga berdampak pada pelaku dan saksi”, ujar Ibu Ninik.
Pada sesi kedua, Ibu Nurina menekankan bahwa bullying bukan sekadar perilaku nakal, tetapi indikasi menurunnya moral pada anak. Yang lebih memprihatinkan, kasus perundungan kini tidak hanya terjadi di kalangan remaja, tetapi juga di antara ibu-ibu muda, menunjukkan bahwa perilaku ini bisa terbawa hingga dewasa jika tidak dicegah sejak dini.
Beliau mendorong guru dan orang tua untuk menanamkan adab-adab harian kepada anak, seperti menghormati sesama, menjaga lisan, meminta maaf dan memaafkan, serta membiasakan sikap empati dalam interaksi sehari-hari.

“Hidup untuk terus belajar. Sebagai pendidik, kita perlu terus belajar terhadap apa pun peristiwa yang terjadi kepada kita. Karena pada hakikatnya, semua peristiwa itu adalah pembelajaran bagi kita. Baik peristiwa yang menyenangkan maupun yang kurang menyenangkan”, ujar Ibu Ririn.
Sebagai langkah konkret, wali kelas dianjurkan untuk membentuk peer group atau kelompok kecil pembiasaan yang berfungsi sebagai ruang latihan adab, saling mengingatkan, dan membangun budaya positif dalam kelas.
Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh guru SMAHA semakin memahami bahwa mencegah bullying adalah usaha kolektif yang dimulai dari kesadaran, keteladanan, dan pembiasaan nilai-nilai kebaikan. Sekolah berkomitmen untuk terus menciptakan lingkungan yang aman, bersahabat, dan ramah bagi seluruh siswa.

